Kenapa Saya Jomblo? Begini Menurut Psikologi Evolusi

Sumber: Freepik / @jcomp

Kenapa Saya Jomblo? Begini Menurut Psikologi Evolusi- Pembahasan mengenai topik kejombloan memang selalu-lah menarik untuk dibicarakan, dan cenderung merupakan hal yang tak pernah mati tuk didiskusikan.

Perhatian! Artikel ini tidaklah bermaksud untuk menyinggung pihak-pihak tertentu. Murni hanya membahas lebih dalam tentang topik pencarian pasangan secara apa adanya tanpa menyudutkan pihak manapun. Harap diingat! Zhoppenk hanya menyajikan bacaan beserta refrensi pembahasan dan tidak bertanggung jawab sama sekali terhadap dampak informasi dari artikel ini!

Bila dipikir-pikir lagi, alasan kenapa seseorang itu menjadi jomblo, atau bahasa yang lebih kerennya single (memilih menyendiri), tentu tidak bisa kita sederhanakan semudah menggerakkan jari kaki. 

Meski demikian, seringkali ada perbedaan yang jelas antara seseorang yang beruntung bisa memiliki banyak pilihan pasangan (mari kita sebut ini single), dengan orang yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali (mari kita sepakat menyebutnya jomblo ngenes).

Jika kamu seorang yang berada pada golongan, hmm, maaf; jomblo ngenes. Kamu bisa saja membuat berbagai mekanisme pertahanan psikologis seperti memakai status "jomblo bahagia", atau mungkin jika tidak ingin terkesan ngenes, dipakailah istilah "jomblo sampai halal" . Tapi tentu kondisimu tetaplah berbeda, dengan mereka yang memilih single dengan banyak pilihan.

(catatan: perihal istilah "Jomblo sampai halal", saya tidak bermaksud menggeneralisir, individu yang saya maksudkan di sini adalah seseorang yang beragama hanyak tuk tujuan mempermudah mencari pasangan)

Suatu hari, tiba-tiba saja rasa sepi menyergap dadamu, sehingga kamu menginginkan seorang pasangan di sampingmu. Kamu kebingungan, meski sudah berusaha, kamu tak kunjung menemukan. Sementara ada banyak dari teman-temanmu yang sebenarnya adalah seorang fuckboy / fuckgirl, terus menerus gonta ganti pacar semudah mengganti sendal. Kamu yang menjaga diri agar tetap jadi good boy / good girl, sulitnya bukan main mencari pasangan.  

Pertanyaannya, mengapa bisa demikian? 

Dengan galau, kamu kemudian mengambil ponsel androidmu, mengaktifkan fitur ok google, lalu bertanya; "Ok google, kenapa aku jomblo terus?" 🤣. Malang, kamu tak menemukan jawabannya. Sebagian artikel di kolom pencarian hanya mengatakan bahwa "alasan kenapa kamu masih jomblo, adalah karena kamu kurang percaya diri". Kamu kemudian kesal, karena toh belakangan ini kamu bahkan terlalu jauh percaya diri dalam melakukan pendekatan, namun hasilnya ditolak juga 🤣. Kamu kemudian mencoba menghibur diri dengan mencari gambar-gambar berisi quotes status jomblo bijak 🤣. Tetapi tentu saja, efek penenang dari quotes itu hanya berlangsung sebentar, karena pikiranmu kembali dipenuhi oleh pertanyaan; "kenapa saya masih jomblo?" 🤣.

Well, ada penjelasan psikologi yang cukup menarik untuk menjawab pertanyaan "Kenapa Saya Jombo?". Penjelasan seperti apakah itu? Salah satunya adalah penjelasan dari mazhab psikologi terbaru: Psikologi Evolusi.

Untuk menjawab pertanyaan seperti Kenapa Saya Jomblo, terdapat tiga teori dalam mazhab psikologi evolusi yang dapat menjelaskannya yaitu: Teori Seleksi Perkawinan; Teori Ekonomi Perkawinan; dan terakhir Teori Evolusi Keinginan Akan Pasangan. 

Nah, tanpa berlama-lama lagi, berikut pembahasannya:

Teori Seleksi Perkawinan

Penjelasan pertama untuk menjawab pertanyaan "Kenapa Saya Jomblo" adalah teori seleksi perkawinan.

Suka atau tidak, cara manusia dalam memilih pasangannya entah secara sadar ataupun tidak sadar, masihlah dipengaruhi oleh selera nenek moyangnya di masa lampau. 

Tak peduli kamu mau percaya atau ragu dengan teori evolusi. Keberadaanmu di dunia sekarang tidak bisa lepas dari kesuksesan nenek moyangmu dalam dua hal; bertahan hidup, dan bereproduksi / berkembang biak.

Seandainya dahulu, nenek moyangmu tidak sukses bertahan hidup, atau tidak sukses menarik hati pasangannya, niscaya kehadiran orang tua ataupun kamu di dunia ini tidak akan pernah ada. Hal yang sama juga berlaku ke gebetanmu. ✌

Segala sifat, kebiasaan, termasuk selera pasangan yang mendukung kemungkinan bertahan hidup & bereproduksi nenek moyang di masa lampau, pada akhirnya diturunkan kepada anak cucunya melalui serangkaian kode biokimiawi yang disebut gen (Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene, 1976).

Dahulu bahkan sekarang jika dipikir-pikir, kegiatan mencari pasangan selalulah menjadi hal yang sulit & seringkali kejam. Bagimana tidak? Selain karena individu itu harus bersaing dengan individu lain dalam mendapatkan pasangan, individu tersebut juga harus pandai memilih manakah calon pasangan yang paling tepat & sehat guna melanjutkan garis keturunan yang seberkualitas mungkin.

Kegagalan individu dalam memilih pasangan bisa berdampak fatal bukan saja bagi dirinya sendiri, melainkan bagi keturunan selanjutnya.

Lantas, jika kenyataan berlangsung seperti demikian, apakah yang dimaksud dengan keturunan berkualitas itu? Jawabannya, tentu saja keturunan yang mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai jenis situasi & kondisi lingkungan. Sekali lagi, keturunan yang punya potensi sukses dalam 2 hal; bertahan hidup & bereproduksi.

Seleksi Perkawinan sederhananya adalah proses di mana individu dari suatu jenis kelamin, mendapatkan lawan jenis sebagai pasangan kawin. Nah, individu yang berhasil mendapatkan pasangan kawin inilah yang nantinya akan mewariskan selera pasangannya kepada anak keturunan. Ada terdapat dua versi dalam memahami bagaimana seleksi perkawinan dapat terjadi. Dua versi itu berasal dari Alfred Russel Wallace & Charles Darwin.

Alfred Russel Wallace berpendapat, bahwa seleksi perkawinan itu terjadi dikarenakan kebutuhan individu akan pasangan yang cocok ditemani bertahan hidup, serta mampu menghasilkan keturunan yang berkualitas. 

Berbeda dengan Wallace, Charles Darwin berpendapat bahwa seleksi perkawinan terjadi karena hanya semata-mata selera kecantikan subjektif saja, tanpa ada hubungannya sama sekali dengan masalah bertahan hidup. 

Terlepas dari perbedaan Wallace & Darwin, keduanya sama sepakat, bahwa selera yang dikembangkan suatu individu dalam proses seleksi perkawinan, itu diwariskan kepada keturunannya.

Lah, terus kalau begitu, kembali ke pertanyaan awal: "Kenapa Saya Jomblo?", jika menurut teori seleksi perkawinan yah karena kamu tidak lolos seleksi dari gebetanmu! ☺

Teori Ekonomi Perkawinan

Penjelasan Kedua untuk menjawab pertanyaan "Kenapa Saya Jomblo?" adalah Teori Ekonomi Perkawinan.

Masih seputar seleksi perkawinan, sebuah artikel menarik berjudul "Bersaing Untuk Cinta: Menerapkan Teori Ekonomi Perkawinan Untuk Kontes Perjodohan", ditulis oleh sekumpulan peneliti psikologi sosial-ekonomi; Baumeister dkk, mencoba mengembangkan lebih jauh tentang seleksi perkawinan tersebut. Tapi sebelum itu, mari kita breakdown sejenak dengan menonton videoklip lagu "Cari Jodoh" karya Wali ini dahulu.


Perhatikan saat lirik lagu tersebut mengulang kalimat "Tak Laku-Laku". Terdengar seperti barang jualan? Terdengar seperti praktek jual-beli yang terjadi di pasaran? Yeah itu benar. Dan yang mengerikan dari itu adalah, konsep mencari jodoh di lapangan, mungkin bisa jadi sama dengan konsep jual-beli di pasar. 

Lak kok? Eh tapi, kan?! Tapi kan, ada istilah yang namanya "Cinta"? 😠

Ho-Ho-Ho Sabar! Nanti tak jelasin di belakang! 

Baumster dkk, dalam artikelnya menerangkan bahwa kompetisi seseorang dalam mendapatkan pasangan, itu kurang lebih sama dengan praktek jual beli dalam pasar. Jika ada seseorang yang laku, maka ada juga seseorang yang kurang laku di pasar perjodohan.

Perihal masalah laku- kurang laku itu, menurut Baumester, pada akhirnya mengikuti sebuah konsep hukum pasar, yang dalam istilah ekonomi disebut hukum supply & demand (permintaan & penawaran). 

Sudah punya kesimpulan jawaban "kenapa saya jomblo" dalam teori ini? 🤣

Semakin banyak seseorang yang ingin membeli suatu barang, maka akan semakin mahal harga yang ditawarkan oleh si penjual. Demikian juga dalam kasus pasangan / perjodohan; semakin banyak lelaki yang tertarik pada seorang perempuan, maka akan semakin tinggi juga kriteria seleksi yang ditawarkan oleh si perempuan.

Wait a minute! Mari kita berandai jika seandainya ada seorang perempuan dengan kualitas tinggi, namun mematok harga rendah untuk seorang lelaki dengan kualitas yang lebih rendah. Maka jawabannya, tentu saja perempuan seperti itu sudah habis laris jauh-jauh hari dipinang oleh para lelaki dengan kualitas rendah di pasaran, sehingga mari kita kembali mengasumsikan bahwa perempuan seperti itu sudah tidak ada, he-he-he.

Kembali ke Laptop. Baumster menjelaskan, dalam kasus perjodohan, lelaki lebih diposisikan sebagai pembeli, sedangkan perempuan lebih diposisikan sebagai penjual. Hal ini dkarenakan lelaki pada umumnya menginginkan perkawinan yang lebih banyak daripada perempuan.

Posisi perempuan yang tidak sebebas laki-laki dalam perkawinan, dikarenakan faktor menstruasi serta resiko kehamilan, membuat ketersediaan perkawinan perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Itu juga yang semakin menguatkan posisi perempuan di posisi si penjual.

Salah satu yang menarik dalam pembahasan dari artikel Baumster ini adalah penggunaan istilah ekonomi yaitu "Ekulibrium Nash". Buat kamu yang belum tahu apa itu ekuilibrium, sederhananya adalah terjadinya kesepakatan antara si penjual yang meminta harga setinggi mungkin, dengan permintaan si pembeli yang ingin semurah mungkin. Contoh: Saat kamu melihat emak-emak menawar harga ikan 10 ribu, sedangkan si penjual di pasar mematok harga 20 ribu, setelah proses tawar menawar yang njilimet, akhirnya lahirlah harga ekuilibirum (yang disepakati) senilai 15 ribu.

Nah, dalam artikelnya Baumster menjelaskan bahwa para perempuan (sebagai si penjual) mungkin berkolusi dengan para pesaingnya, agar harga mereka di pasaran jodoh tetap tinggi di hadapan para lelaki (si pembeli). Harga patok yang tinggi dari para perempuan ini tentu saja tidaklah stabil mengingat cepat atau lambat kualitas perempuan itu akan diungkap lebih jauh oleh para lelaki (si pembeli).  

Ok, cukup sudah ngomong panjang lebar tentang seleksi perkawinan serta teori ekonomi perkawinan.

Pertanyaannya, apa yang membuat seorang perempuan itu menarik sehingga banyak diinginkan laki-laki? Demikian juga lelaki, harga apa saja dipatok oleh perempuan kepada lelaki calon pasangannya? Well, seorang profesor psikologi evolusi Universitas Texas Austin, David Buss punya hipotesis tentang jawaban itu.


Teori Evolusi Keinginan Akan Pasangan

David Buss memberikan pengembangan lebih lanjut tentang bagaimana kriteria seorang perempuan atau laki-laki itu diinginkan. Tapi, sebelum itu, mari lihat tabel di bawah dulu, sebagai gambaran awal apa yang sebenarnya sedang kita bicarakan.

Cara Perempuan Mengatasi Problem Bertahan Hidup & Bereproduksi Dalam Seleksi Alam

Output Pilihan Pasangan

Memilih Pasangan Yang Bisa Berinvestasi Kepada Dirinya

Kemapanan Finansial atau Sumber Keuangan Yang Baik

Status Sosial

Usia Matang & Berpengalaman

Memiliki Ambisi & Ketekunan

Ukuran, Kekuatan, & Kemampuan Atletik

Kecerdasan

 

Memilih Pasangan Yang Punya Keinginan Tuk Berinvenstasi Kepada Dirinya

Keteguhan & Kestabilan Emosional

Isyarat Cinta & Komitmen

Kemampuan Mendekati Anak-Anak

 

Memilih Pasangan Yang Bisa Melindungi Diri & Anaknya

Ukuran ( Tinggi Badan)

Keberanian

Kemampuan Atletik

Tipe Body Maskulin

 

Memilih Pasangan Dengan Kemampuan Parenting Yang Bagus

Keteguhan

Kestabilan Emosional

Baik Hati

Kemampuan Mendekati Anak-Anak

Contoh bagaimana perempuan membuat kriteria pasangannya secara evolusi.
Sumber: Rangkuman Buku Evolutionary PsychologyDavid Buss, Dalam Lucio Bufalmano

Tahukah kamu? bahwa pada umumnya, perempuan cenderung lebih menekankan pada prospek keuangan yang baik, sedangkan lelaki lebih menekankan pada penampilan fisik dalam mencari pasangan? (sumber: penelitan Michael W Widerman & Elizabeth Rice Algeier, 1992).

Dan Tahukah kamu? jika pada umumnya, perempuan lebih tertarik pada lelaki dengan usia yang sama atau sedikit lebih tua, berbeda dengan lelaki yang lebih tertarik dengan perempuan dengan usia yang lebih muda (pertengahan usia dua puluhan)? (sumber: penelitian Jan Alfok dkk, 2015).

Nah, kita kembali ke pembahasan Evolusi Keinginan. David Buss telah merangkum berbagai kriteria seperti di atas, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Berikut penjabarannya.

Apa Yang Perempuan Inginkan Dari Pasangan

Sepakat atau tidak, selain karena faktor agama & budaya, ada kriteria tertentu yang secara umum diterapkan oleh setiap orang. Maksudnya begini, okelah jika seandainya di lapangan kita menemukan seorang perempuan yang bersedia menikahi lelaki dengan kualitas lebih rendah hanya karena agama atau budayanya. 

Namun, tentu saja jika kita menyingirkan kedua motif tersebut (agama & budaya), ada motif yang sifatnya lebih universal. Kriteria ini diwariskan turun temurun oleh nenek moyang di masa lampau. Nah, supaya nantinya kita tidak jadi blunder, kriteria yang sedang kita bicarakan di sini adalah kriteria yang digunakan oleh nenek moyang tersebut. 

1) Pasangan Dengan Kondisi Finansial Yang Baik

Jawaban dari pertanyaan "Kenapa Saya Jomblo?" bisa jadi karena kamu adalah seorang lelaki dengan finansial yang pas-pasan (alias kere 🤣).

Mulai dari sekarang, belajarlah tuk berhenti menghakimi seorang perempuan dengan istilah "cewek matre". Why? Ketahuilah bahwa sejak dulu nenek moyang kita memang selalu menekankan pada aspek kemapanan ekonomi.

Seandainya dulu nenekmu menikahi pasangan yang tidak mampu menafkahi diri & anaknya, niscaya kamu & orang tuamu akan kesulitan untuk berada di dunia ini 🤣.

Yah! Tapi kan finansialnya gak mesti berlebihan? Well, mari kita kembali dengan kerangka pikir evolusi. Seseorang dengan kondisi makanan yang berlimpah, tentu kemungkinan bertahan hidupnya jauh lebih besar daripada seseorang yang kesulitan makanan kan? Demikian juga jika kasus seorang perempuan apalagi yang telah menjadi ibu. Seorang ibu tentu tak ingin anaknya berada pada kondisi kekurangan finansial yang bisa menghambat tumbuh kembang si anak. 

Adalah hal yang logis jika individu perempuan memilih untuk mengumpulkan sebanyak mungkin sumber daya demi keberlangsungan hidup diri dan keturunannya.

So, wahai kamu lelaki jomblo tak bermodal, masih kah ingin berkilah? 🤣

David Buss berpendapat bahwa evolusi preferensi perempuan untuk lelaki berdasarkan finansial (sumber daya), mungkin merupakan dasar paling kuno dan tersebar luas untuk setiap pilihan perempuan, atau betina di kerajaan hewan.

Kemampuan seorang lelaki untuk menghadirkan finansial yang baik bagi pasangannya ini, menurut David Buss diikuti oleh prasyarat seperti dapat memperoleh, mempertahankan, dan mengendalikan, serta bersedia untuk menginvestasikan keuangan finansialnya kepada si perempuan.

2) Pasangan Dengan Status Sosial Yang Tinggi

Perempuan memang menginginkan lelaki yang sebisa mungkin memiliki posisi tinggi di masyarakat. Kenapa? David Buss menerangkan aspek ini sebenarnya masihlah berkaitan dengan faktor finansial. Menurutnya, status sosial bisa menjadi petunjuk yang kuat tentang bagaimana kondisi finansial pasangannya.

Selain itu, jika berbicara dari segi evolusi, anak-anak yang dibesarkan dari keluarga dengan status sosial tinggi memiliki akses yang lebih baik ke berbagai sektor masyarakat seperti; kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dll. 

Well, dari sini kamu sudah tahu lah! Kalau misalnya ada seorang lelaki yang tidak punya status sosial, pengangguran nolife di rumah, terus gak punya teman juga, yah gak usah bertanya "kenapa saya jomblo" lah! 🤣

3) Pasangan Dengan Usia Yang Sama Atau Lebih Tua

Perempuan menginginkan usia yang sama / lebih tua. Kesimpulan tersebut diambil oleh Buss setelah mengumpulkan data dari 37 budaya yang berbeda. Adapun usia yang lebih tua dimaksudkan di sini adalah rata-rata 3 tahun dari si perempuan.

Buss berpendapat, selain karena usia lebih tua bisa menjadi petunjuk dari kondisi finansial, usia juga dipercaya menjadi patokan untuk mencari pasangan dengan kepribadian yang lebih dewasa, stabil secara emosional, serta lebih banyak pengalaman sehingga dapat diandalkan.

Yah, sekali lagi, kriteria ini bisa berlaku selama tidak ada faktor pengganggu seperti agama & budaya.  Serta, tentu saja faktor genetik yang menyebabkan beberapa orang mungkin memiliki preferensi yang agak berbeda dari mayoritas.

4) Pasangan Dengan Kondisi Fisik Sehat & Menarik

Salah satu jawaban dari "kenapa saya masih jomblo" yang ini kamu pasti tahu: penampilan.

Penampilan fisik pada lelaki memang masihlah faktor yang mempengaruhi bagaimana perempuan memilih pasangan. Walau tentu saja, kriteria tersebut mulai berkurang (bukan menghilang) di zaman modern. Hal itu tentu saja tidak lepas dari keinginan setiap perempuan untuk memiliki keturunan dengan fisik yang sama sehat & menariknya dengan orang tua.

Fitur-fitur fisik seperti wajah simetris, nada suara maskulin, penampilan otot serta tinggi badan, setidaknya semua hal itu menjadi sebuah petunjuk ciri-ciri gen yang sehat. But, why? 

Well, that's a good question! Jawaban dari pertanyaan itu adalah; dahulu nenek moyang menganggap bahwa fitur-fitur seperti wajah simetris, dagu maskulin, badan berotot, tinggi badan sebagai pertanda bahwa si lelaki memiliki tubuh yang bagus dalam rangka berburu / mencari makanan. Demikian juga dengan suara berat, perempuan di zaman dahulu mengasosiasikan suara berat dengan lelaki berotot yang unggul dalam berburu & mencari makan (Yah, meskipun sebenarnya yang bersuara berat belum tentu berotot sih).
 

5) Pasangan Dengan Faktor X

Apa itu faktor X? Maksudnya itu bisa banyak hal, tidak menentu, & tidak pasti. Ha?

Yup, David Buss dalam bukunya The Evolution Desire, memang tidak mengabaikan motivasi dan kepribadian yang kompleks dari seorang perempuan. Ia mengakui bahwa pada akhirnya, apa yang perempuan inginkan dari lelaki bisa jadi inheren kompleks, beraneka segi, & bergantung pada konteks.

So, jangan heran, jika suatu waktu kamu menemukan perempuan yang menginginkan lelaki dengan tubuh bertatto, bau keringat khas, dari agamanya, atau mungkin bersifat unik, all of that is factor X gaess!


Apa Yang Diinginkan Laki-laki Dari Pasangannya

Seperti halnya perempuan, kaum adam juga memiliki kriterianya sendiri warisan nenek moyang dari masa lampau. Tanpa berbasa-basi lagi berikut daftarnya.

1) Pasangan Dengan Usia Lebih Muda

Kenapa saya jomblo? Jika kamu seorang perempuan, bisa jadi jawabannya adalah usia yang membuat kamu sudah kurang menarik lagi di mata para lelaki. ✌✌

Sudah menjadi hal yang lumrah, terutama di kalangan masyarakat kita, bahwa seorang lelaki kebanyakan memang mencari sosok pasangan perempuan yang usianya lebih muda.

Hal ini berkaitan dengan kesuburan dan kesehatan reproduksi perempuan. Usia yang paling paling ideal bagi perempuan untuk bereproduksi memang berada di pertengahan usia dua puluhan.

Ada apa dengan di bawah atau di atas tersebut? Well, kamu pasti sudah tahu bagaimana resiko kehamilan muda maupun tua. Persalinan yang terjadi di usia muda (< 20 tahun), beresiko pada kematian ibu & bayi. Sedang persalinan yang terjadi di usia tua (> 35 tahun), dapat beresiko pada kesulitan persalinan, kematian bayi, serta resiko bayi down syndrom

2) Pasangan Dengan Penampilan Fisik Yang Menarik

Kalau yang ini, kayaknya sudah tiada keraguan darinya yaaa?! 🤣.

Hampir mirip seperti cara perempuan memilih pasangan laki-laki, fisik yang menarik juga diinginkan oleh kaum adam selain karena potensi mendapatkan keturunan yang menarik, juga sebagai tanda subur & sehatnya kesehatan reproduksi si perempuan. (Yah, sekali lagi, meski sebenarnya cantik belum tentu sehat & subur sih).

Kelebihan lain dari memiliki pasangan cantik, menurut Buss dapat meningkatkan status sosial di mata kawanannya. Hal ini terutama pada lelaki yang tidak memiliki penampilan fisik yang menarik. Dengan memiliki istri yang cantik, orang-orang akan beranggapan si lelaki yang tidak menarik memiliki tanda status sosial yang tinggi. 

Nah, lanjut, menurut Buss, meski kecantikan ada beberapa yang ditentukan oleh budaya seperti postur tubuh (tegak vs lurus), warna kulit (putih vs gelap), mata, telinga, bokong, payudara besar, tetap ada standar universal dari kecantikan. Salah satu standarnya yah tentu saja, kesimetrisan wajah.

Kesimtresian wajah di masa lampau digunakan oleh nenek moyang kita, sebagai sinyal kesehatan umum yang baik. (Yah, sekali lagi, tentu kita semua tahu, yang cantik belum tentu sehat sih). 

3) Pasangan Dengan Kesucian & Kesetiaan

Keinginan lelaki akan pasangan perempuan dengan status kesucian (belum pernah melakukan perkawinan) serta kesetiaan, kemungkinan besar dipengaruhi oleh strategi mencari pasangan di masa lampau.

Dengan memiliki pasangan dengan tanda kesucian & kesetiaan, pihak lelaki tidak perlu repot-repot mencemaskan bahwa pasangannya akan dibuahi oleh pesaing lain.

Buss berpendapat bahwa jumlah sebenarnya dari aktivititas perkawinan sebelumnya pada calon pasangan daripada keperawanan itu sendiri akan memberi petunjuk yang baik bagi leluhur laki-laki dalam mengatasi masalah statusnya sebagai ayah.

Kesucian menurut Buss, bisa menjadi prediktor yang baik jika bicara kesetiaan. Sebab, pada umumnya orang yang memiliki banyak pasangan perkawinan sebelum menikah biasanya cenderung lebih tidak setia dibandingkan mereka yang memiliki sedikit pasangan sebelum menikah.


Bagaimana Dengan Istilah Cinta Sejati?

Hoo, tibalah kita pada materi tentang cinta.

Well, sebelum kita berbicara mengenai teori tentang cinta, tahukah kamu bahwa istilah jatuh cinta itu sebenarnya baru ada sejak zaman industri agrikultural modern? Yang artinya, sebelum itu nenek moyang kita tidaklah mengenal istilah kata cinta.

Kamu tertarik dengan bagaimana mekanisme cinta bisa terjadi di otak perempuan? Berikut video penjelasan dari salah seorang dokter bedah syaraf sekaligus pemerhati biopsikologi, Ryu Hasan;


Nah, untuk penjelasan otak laki-laki, berikut videonya;


Yah, udah gak romantis lagi dong yah, 🤣. Tapi kalau kamu masih pengen lanjut bicarakan istilah cinta yaa gak apa-apa juga seh 🤣.

Ada sebuah teori psikologi yang membahas tentang cinta, namanya Triangular Theory Of Love. Teori tersebut pertama kali dicetuskan kan oleh psikolog sekaligus profesor di Universitas Cornell, Robert Sternberg (tahun 1986).

Menurut si Sternberg ini, cinta itu bisa terjadi apabila telah memenuhi tiga prasyarat yaitu; ketertarikan, intimasi, & komitmen.

Komitmen oleh Sternberg merupakan komponen dalam cinta, terutama dalam hubungan jangka panjang. Sedang intimasi sederhananya adalah kenyamanan psikologis seseorang dengan pasangannya. Nah, untuk memulai kedua itu, lagi-lagi diperlukan sebuah gerbang yang disebut ketertarikan.

Bagaimana cara memulai ketertarikan? Yah, pada akhirnya kembali ke kriteria seleksi pasangan di atas lagi seh.


Perlu diingat! Penjelasan teori ini tidaklah 100% dapat dipercaya. Meski ada banyak penelitian yang mendukung kebenarannya. Tetap saja, selalu ada kemungkinan teori ini salah. So, don't take it too seriously! Always love yourself! Ok?! 


***
Sekali lagi ingat yah! Baik teori seleksi perkawinan, ekonomi perkawinan, maupun evolusi keinginan di atas bukanlah kebenaran mutlak. Bisa jadi itu benar, tapi bisa juga itu salah! So, tetap semangat, jaga kesehatan, & always love yourself!

Well, demikian saja barangkali artikel mengenai topik kejombloan ini. Bagaimana? Sudah ketemu jawaban "kenapa saya jomblo?" ✌. Sampaikan pendapatmu di kolom komentar yah! Sampai jumpa lagi!
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Gaya Hidup