23 Kesalahan Logika Dalam Berdebat

Artikel 23 Kesalahan Logika Dalam Berdebat ini merupakan pengantar awal dari materi logika. So, bagi kamu yang tertarik dengan informasi ini, jangan lupa share yah, Sob! Karena sebuah pengetahuan tidaklah asyik kalau hanya disimpan sendiri!

Pernah nggak? Kamu merasa ada yang mengganjal di kepalamu saat berdebat dengan orang lain? Kamu seolah sudah dimanipulasi, 

"dia yang ngaco, tapi malah paling galak sendiri". 

Argumentasinya seperti ada sesuatu yang salah, dan kamu sebagai lawan debat pada akhirnya menemukan hasil kesimpulan yang gak jelas arah?

Jikalau semua yang saya katakan di atas itu benar, maka barangkali kamu sudah tepat berada di sini.

Ada sebuah nasehat yang mengatakan; 

"Dilarang berdebat! Debat itu tidak baik dan kurang bermanfaat". 

Yah, nasehat tersebut tidak sepenuhnya benar sih, jikalau boleh dikata, mungkin nasehat itu ada baiknya dikoreksi saja menjadi 

"Jangan berdebat dengan orang bodoh! Sebab hasilnya hanya bakal sia-sia saja!"

Debat sangat bermanfaat bagi kita yang mau berendah hati menguji kebenaran asumsi kepada orang lain. Dengan berdebat, kita dapat melatih keberanian mengungkapkan pendapat, menambah wawasan, melatih kemampuan berpikir kritis & logis, serta memperluas perspektif.

Pada umumnya debat bertujuan untuk membantu manusia dalam menentukan kebenaran. Akan tetapi, terkadang debat juga dapat menjadi alat manipulatif bagi seseorang dengan tujuan tertentu.

Seseorang yang ingin berdebat, secara etika harus bisa menahan bahkan menghilangkan egonya dalam berargumen, serta mengedepankan fakta & logika dalam merumuskan suatu asumsi. Jikalau ia tak mampu bersikap demikian, maka bisa jadi ia akan terjerumus ke dalam kesalahan logika (logical fallacy).


Apa Itu Kesalahan Logika (Logical Fallacy)?

Dalam buku yang berjudul Introduction to Logic (Irving, Carl, & Kenneth, 2014); Logical fallacy sederhananya adalah pola argumentasi yang seolah terasa benar, padahal sesat karena diproses dengan penalaran yang cacat.

Nah, bagi kamu yang penasaran seperti apa saja bentuk-bentuk dari kesalahan logika (logical fallacy), biar tahu cara berdebat yang baik dan benar, berikut contoh-contohnya:

  1. Ad Hominem Fallacy

    Logical Fallacy Of Ad Hominem
    Sumber: makememe.org

    Sebagai kesalahan logika yang pertama, kita mulai dari Ad Hominem.

    Pernah gak sih kamu berdebat dengan orang, yang kalau berargumen nyerang person mulu, ketimbang isi dari apa yang diungkapkan lawan bicara? Kalau ya, maka selamat, kamu sudah menemukan contoh Ad Hominem.

    Orang-orang dengan fallacy seperti ini memang menyebalkan. Dan untuk kamu yang sedang mencari cara agar pandai berdebat, sebaiknya pahami & hindari kesalahan logika ini.

    BACA JUGA: Ad Hominem Fallacy & Cara Mematahkannya.

    Contoh kesalahan logika Ad Hominem:

    • "Kamu kan enggak pakai jilbab, tahu apa kamu soal agama?"

    • "Apasih, kamu yang besar dari keluarga kaya, gak usah sok bicara soal kemiskinan lah!"

    • "Yah jelas toh, kamu membela kebijakan penjualan rokok. Kamu kan perokok?!"
       
    • "Dasar cebong! Lu emang dasarnya ngebela pemerintah kan?"


  2. Strawman Fallacy

    Strawman Fallacy
    Sumber: Pinterest

    Orang yang hobi dengan tipe kayak gini nih, kalau debat suka banget melintir argumen lawan supaya jadi bahan serangan baru, meski hasil pelintiran itu sama sekali gak lawan bicara katakan. 

    Parahnya lagi, orang tersebut akan mengabaikan apa yang lawan sebenarnya katakan, lalu berfokus menyerang argumen pelintiran ciptaannya sendiri.

    Contoh kesalahan logika Strawman:

    • "Oh, kamu tidak suka pemerintah membolehkan industri rokok? Jadi kamu menolak kesejahteraan petani tembakau?"
      Koreksi: Lawan bicara hanya mengatakan "tidak suka pemerintah membolehkan industri rokok". Tapi tidak pernah bilang "menolak kesejahteraan petani tembakau."

    • "Kalau kamu menolak kekerasan di kepolisian, itu berarti kamu ngebolehin para penjahat berbuat seenaknya aja!"
      Koreksi: Lawan bicara hanya mengatakan "menolak kekerasan di kepolisian". Tapi tidak pernah bilang "Ngebolehin para penjahat berbuat seenaknya".

    • Kasus #:
      Kepala Sekolah: "Sepertinya kita perlu menambah materi pembelajaran baru di kelas".
      Orang Tua Siswa: "Bapak Kepala Sekolah sepertinya senang kalau siswanya depresi semua."

  3. Slippery Slope Fallacy

    kesalahan logika slippery slope
    Sumber: memegenerator.net


    Argumen yang membutuhkan banyak pernyataan. Biasanya, orang dengan tipe seperti ini kalau bicara akan seperti kereta api. Ia akan mengasumsikan jika kemungkinan A terjadi, maka kemungkinan B, C, D, bahkan Z akan terjadi juga (meski tanpa dukungan data & logika yang benar).

    Kamu yang mau memulai suatu perdebatan, atau ikut berdebat dalam forum diskusi, sebaiknya dipikir matang-matang lah biar logikanya gak kayak gini!

    Contoh kesalahan logika Slippery Slope:

    • "Jika pemerintah melegalkan minuman beralkohol, itu berarti pemerintah memang ingin kriminalitas meningkat. Kenapa? Yah karena ketika orang minum alkohol, maka ia akan kehilangan kesadaran. Ketika seseorang kehilangan kesadaran, ia akan kesulitan dalam menentukan mana yang baik & buruk. Jika seseorang tidak mamp menentukan mana yang baik & buruk, maka ia bisa melakukan berbagai kejahatan & kekerasan."
      Koreksi: Mengaburkan fakta bahwa ada banyak orang yang meminum alkohol tapi tidak kehilangan kesadaran, atau melakukan kekerasan & kejahatan.

    • "Jika masyarakat mudik pada masa pandemi virus X, maka sudah pasti virus X akan makin ganas & mematikan. Kenapa? Sebab, kalau semakin banyak orang mudik, maka akan semakin banyak kerumunan. Nah, kalau semakin banyak kerumunan, maka virus akan lebih mudah menular. Kalau virus semakin banyak menular, maka virus akan semakin banyak bereplikasi. Nah, kalau virus terus menerus bereplikasi, maka virus bisa bermutasi menjadi lebih ganas & berbahaya."
      Koreksi: Mengaburkan kemungkinan lain, bahwa mudik belum tentu menyebabkan lebih banyak penularan, dan virus belum tentu bermutasi dan menjadi lebih ganas.

    • "Kita harus mengutuk perilaku seks di luar nikah karena dapat menyebabkan penyakit kelamin seperti HIV-AIDS di masyarakat. Kenapa? Karena ketika seseorang melakukan seks di luar nikah, maka ia melakukan hubungan seksual yang tidak sehat. Jika melakukan hubungan seksual yang tidak sehat, maka akan menyebabkan penyakit kelamin berbahaya."
      Koreksi: Sang penutur lupa membedakan mana seks sehat (mengikuti anjuran medis) & mana seks legal (dalam pernikahan). Padahal, seks di luar nikah bisa jadi tetap sehat asal mengikuti anjuran medis, dan seks di dalam pernikahan bisa jadi tidak sehat bila tidak mengikuti anjuran medis.
       

  4. Special Pleading Fallacy

    Standar ganda
    Sumber: p2kp.stiki.ac.id

    Kalau bahasa gaulnya sih; "standar ganda". Pelaku fallacy seperti ini biasanya akan membuat semacam standar, prinsip, aturan, atau kriteria tertentu kepada lawan debat, akan tetapi di saat yang sama ia membebaskan / mengecualikan diri dari kriteria tersebut. 

    Cara berdebat dengan orang yang sesat pikirnya seperti ini, adalah kamu hanya perlu memperingatkan agar konsisten dengan kriteria yang ia sendiri buat.

    Contoh kesalahan logika special pleading:

    • "Saya mengerti, kalau korupsi itu buruk. Namun, saya mohon untuk kasus saya, ada hal yang harus dipertimbangkan. Saya terpaksa melakukannya karena istri saya hamil membutuhkan banyak biaya."

    • "Semua agama itu irasional & sesat karena menyembah sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kecuali agama saya."

    • Kasus #:
      Senior: "Perempuan itu gak usah pakai make up! Gak usah lah sok cantik!"
      Junior: "Mohon maaf kak, tapi kan temen kakak pakai make up juga."
      Senior: "Gak usah melawan kamu! Senior selalu benar!"


  5. The Gambler Fallacy

    sesat pikir sang penjudi
    Sumber: w-t-w.org

    Merupakan sebuah keyakinan bahwa suatu peristiwa-peristiwa sebelumya, akan mempengaruhi peristiwa di masa depan. Meski setiap peristiwa itu sebenarnya berdiri sendiri & tidak saling mempengaruhi satu sama lain.

    Contoh kesalahan logika the gambler: 

    • “Penjualan perusahaan sudah banyak rugi belakangan ini, kali ini pasti untung!”

    • "Istri saya sudah melahirkan 6 anak laki-laki belakangan ini, dan saya yakin peluang istri saya melahirkan anak perempuan lebih besar di kelahiran nanti."

    • "Saya selalu mujur beberapa hari ini, kemujuran saya mungkin sudah habis, besok mungkin saya akan mendapat sial."

  6. Black or White Fallacy

    Black or white
    Sumber: diylol.com

    Argumentasi yang menggiring seolah-olah hanya ada 2 kemungkinan dikotomis (saling berlawanan), sedang kemungkinan lain tidak ada.

    Contoh kesalahan logika black or white:

    • "Hanya orang kafir yang mendukung pemerintah."

    • "Mereka yang tidak memakai produk dalam negeri itu gak punya nasionalisme."

    • "Percuma memperjuangkan kesetaraan, toh diskiriminasi itu akan selalu ada."
      Koreksi: Maksud dari argumen ini adalah, karena kita tidak dapat secara total memberantas diskriminasi, oleh sebab itu kita tidak perlu memperjuangan kesetaraan sama sekali (Hitam: kesetaraan yang tidak sempurna vs Putih: kebaikan dari kesetaraan).

  7. False Cause Fallacy
    False Cause
    Sumber: Kaskus.


    Bahasa lain dari jenis sesat pikir ini adalah Pos Hoc Ergo Proper Hoc. Bahasa sederhanya? "Lain di sebab, lain di akibat". 

    Argumen ini mengasumsikan bahwa hubungan sebab-akibat itu sudah benar, padahal tidak sama sekali.

    Contoh kesalahan logika false cause:

    • "Nilai ujianku bagus pasti karena jimat ini."

    • "Daerah itu sering terjadi bencana, karena banyak orang LGBT nya."

    • "Orang Indonesia kebal  virus X, karena makannya nasi kucing."

  8. Loaded Question Fallacy

    Teknik Berdebat Judgement
    Sumber: study.com

    Mengajukan pertanyaan tuduhan yang dapat menimbulkan praduga berbahaya, yang bila tidak dijawab, maka akan menimbulkan rasa bersalah.

    Fallacy seperti ini sebenarnya sering digunakan dalam suatu kompetisi debat, biasa disebut dengan teknik berdebat Judgement. Bertujuan untuk membuat lawan bicara hanya berfokus membela diri, sehingga lupa untuk menyerang balik.

    Meski fallacy ini malah dijadikan sebagai teknik dalam berdebat, sebaiknya tipe seperti ini jangan digunakan karena sifatnya yang sesat & kotor.

    Contoh kesalahan logika loaded question:

    • “Apakah anda sudah berhenti memperlakukan pacar anda dengan buruk?”
      Koreksi: Pertanyaan tersebut seolah menggilir opini bahwa lawan bicara memang menganiaya pacarnya, padahal ia tidak pernah memperlakukan pacarnya dengan buruk."

    • "Apakah anda serius ingin memilih politisi korup ini?"
      Koreksi: Pertanyaan tersebut seolah menggilir opini bahwa politisi yang dipilih oleh sang lawan bicara, memang korupsi. Padahal dalam faktanya tidak.

    • "Bisa tidak kamu mengakui sedikit saja, kalau kamu kurang bijak dalam membicarakan hal ini?"
      Koreksi: Pertanyaan ini seolah memberikan judgement kepada lawan bicara bahwa ia tidaklah bijak. Padahal dalam kasus tersebut ia tidak demikian.

  9. Bandwagon Fallacy

    Bandwagon
    Sumber: worldofweirdthing.com

    Biasa juga disebut Argumentum ad Populum. Argumen ini biasanya mengangkat asumsi dari sesuatu yang dianggap benar, hanya karena banyak orang (mayoritas) merasa demikian.

    Contoh kesalahan logika bandwagon:

    • "Virus X itu tidak ada, karena banyak orang merasa baik-baik saja meski selalu beraktivitas di kerumunan"

    • "8 dari 10 dokter mengakui bahwa produk X bermanfaat bagi kesehatan, oleh karena itu, kebenaran bahwa produk X memberi manfaat bagi kesehatan tidak mungkin salah"

    • "Banyak anak muda yang menggandrungi aplikasi tiktok, oleh karena itu tiktok pasti baik, dan kita kita juga harus main tiktok."

  10. Begging The Question Fallacy

    Begging The Question
    Sumber: knowyourmeme.com

    Kesalahan logika yang penarikan kesimpulannya belum jelas kebenarannya, tapi langsung dinyatakan seolah itu memang benar tanpa fakta yang jelas. Sebutan paling populernya sih “Jumping Conclusion”.

    Contoh kesalahan logika begging the question:

    • "Semua pria perokok adalah pejantan. Sebab hanya pria pejantanlah yang berani menantang bahaya."

    • "Pepsodent adalah pasta gigi terbaik di Indonesia. Karena, tidak ada yang bisa membuat pasta gigi yang lebih baik daripada pencipta Pepsodent."

    • "Saya yakin bahwa jin penunggu rumah tua itu memang nyata. Karena mahluk gaib memang sudah diceritakan keberadaannya dalam kitab suci."

     

  11. Appeal to Authority Fallacy

    Appeal To Authority
    Sumber: Pinterest

    Argumen yang menyatakan bahwa suatu itu sudah 100% valid meski tanpa data / bukti, jika bersumber dari otoritas. Sehingga tidak perlu lagi diselidiki lebih lanjut. 

    Adapun yang dimaksudkan dengan otoritas itu bisa berupa pemerintah, idola, orang tua, dan lainnya.

    Contoh kesalahan logika appeal to authority:

    • "Kita tidak perlu pakai masker. Karena menurut pemerintah masker hanya untuk orang sakit."

    • "Alasan saya memakai produk X, adalah karena artis Pevita Pearce memakai dan mempromosikannya juga. Pevita idola saya tentu bukan orang bodoh, dan juga gak bakal ngebodohin kita kan?"

    • "Menurut Ustad Fulan, puasa tiga hari tiga malam non-stop itu menyehatkan jasmani dan rohani."

    • "Menurut teman saya yang mahasiswa psikologi, seseorang yang kecanduan seks itu sebenarnya kerasukan jin."

  12. Appeal to Nature

    membedakan mana yang alami dan baik
    Sumber: Pinterest

    Percaya bahwa sesuatu itu adalah kebenaran mutlak jika berdasar dari alam. Jika sesuatu itu sudah alami, maka sesuatu itu sudah baik bagi kehidupan. Dan jika sesuatu itu tidak alami, maka hal itu buruk.

    Contoh kesalahan logika appeal to nature:

    • "Obat antibiotik ini tuh terbuat dari bahan kimia yang gak alami, jadi pasti gak sehat buat tubuh."

    • "Penjahat itu tuh membunuh karena otaknya terganggu. Wajar aja kan kalau dia gak mampu bedain membunuh itu buruk atau baik?"

    • "Obat herbal ini terbuat dari bahan alami, jadi pasti menyehatkan dan gak berbahaya bagi tubuh."

  13. Composition / Division Fallacy

    generalisasi
    Sumber: memecreator.org

    Hampir mirip-mirip generalisasi. Jika suatu bagian menimbulkan suatu hal tertentu, maka keseluruhan bagian dari sesuatu itu akan dianggap menimbulkan hal yang sama.

    Contoh kesalahan logika composition / division:

    • "Mahasiswa dari kampus A tuh terkenal pintar-pintar. Dia kuliah di kampus A, oleh sebab itu dia pasti pintar".

    • "Saya punya banyak teman dari Soppeng dan orangnya pelit-pelit semua. Dia orang Soppeng, jangan meminta donasi kepadanya!"

    • "Semua polisi itu sama, jahat dan suka kekerasan semua! Mereka hanyalah preman berseragam!"

  14. Anecdotal Fallacy

    logical fallacy
    Sumber: memegenerator.net

    Mendasarkan kebenaran hanya semata-mata dari pengalaman pribadi. Meski itu tidak sesuai dengan data & penalaran yang jelas. 

    Contoh kesalahan logika anecdotal: 

    • "Hantu itu memang beneran ada. Saya jamin karena saya sendiri sudah melihatnya."

    • "Obat herbal ini memang benar-benar berkhasiat buat kesehatan. Saya sudah mencobanya, dan saya merasa ada perubahan yang lebih baik di tubuh saya."

    • "Menurut pengalaman saya, topi ini memang bisa membantu saya disukai banyak pria."

     

  15. Appeal to Emotion Fallacy

    argumen sentimentil
    Sumber: memegenerator.net

    Menggunakan respon / setimen emosional untuk melawan argumen yang valid dan lebih masuk akal.

    Fallacy seperti ini sebenarnya sangat sering dimainkan dalam berbagai iklan, puisi, atau pidato kampanye tuk menarik hati seseorang.

    Contoh kesalahan logika appeal to emotion:

    • "Demi rakyat-rakyat kecil yang setiap harinya ditindas dan diperas oleh pemerintah. Kejahatan pemerintah itu suatu hari nanti pasti akan kalah juga oleh suara yang menuntut keadilan!"
    • "Kamu tidak boleh buang-buang air! Pikirkan perasaan mereka yang kesulitan air di Afrika sana sekarang!"

    • Kasus #:
      A: "Dia tuh harusnya dihukum karena perbuatannya! Masa habis ngelakuin pelecehan seksual kayak gitu dibiarin aja?"

      B: "Jangan gitu lah bro! Coba deh, kamu banyangin gimana rasanya kalau kamu seperti dia?" 

  16. To Quoque Fallacy

    Sumber: aminoapps.com


    Mencoba menangkis kritik, dengan cara mengkritik balik menggunakan kritik yang sama tanpa berfokus pada argumen yang dibicarakan.

    Biasanya digunakan untuk mengangkat sisi kemunafikan & inkonsistensi dari posisi sang lawan.

    Contoh kesalahan logika tu quoquo:

    • "Kalau pemerintah bisa mengadakan perkumpulan sehingga melanggar protokol kesehatan, kenapa kami tidak?"

    • "Gak usah munafiklah, Pak! Gak usah ngelarang saya merokok! Ibu aja ngerokok, kan?"

    • "Ya elah, sok mengkritik pencemaran lingkungan! kamu aja kemarin juga buang sampah sembarangan, kan?"


  17. Burden of Proof Fallacy

    Sumber: Pinterest


    Mencoba menjatuhkan beban pembuktian kepada yang tertuduh, padahal seharusnya si penuduh lah yang harus membuktikan klaimnya.

    Pada umumnya, seseorang dengan argumen fallacy seperti ini akan menyangkal keharusannya menghadirkan bukti, atau berpura-pura telah menghadirkan bukti.

    Adapun terkait siapa yang sebenarnya wajib menghadirkan bukti lebih dulu, adalah ia yang mengklaim "kebenaran adanya suatu hal", atau mengklaim bahwa "opininya itu benar adanya".

    Contoh kesalahan logika burden of proof:

    • "Apa buktinya kalau alam gaib itu tidak ada?"

    • Kasus#
      Seorang youtuber Mardigu Wowiek mengklaim bahwa Amerika lah dalang dari pandemi virus X yang melanda seluruh dunia. Ketika seseorang bertanya bahwa apa buktinya kalau Amerika lah dalangnya? Mardigu malah bertanya balik apa bukti kalau Amerika bukan dalangnya?

    • Kasus#
      A: " Vaksin virus X ini dijamin 3000% aman dan tidak berbahaya bagi penderita hipertensi."

      B: "Apa buktinya kalau vaksin itu memang aman?"

      C: "Apa buktinya kalau vaksin ini memang tidak aman?"

    • Kasus#
      "Apa buktinya kalau saya melakukan pelecehan seksual?"
      Koreksi: Terkhusus pada kasus ini, ada pengecualian termasuk juga pada kasus korban pemerkosaan. Hal ini dikarenakan kesulitan dalam mendapatkan saksi pada saat kejadian. Seorang korban yang menuduh lawan telah melakukan pelecehan seksual / pemerkosaan, secara tidak langsung telah membuktikan klaimnya, karena ia adalah saksi bagi tubuhnya. Sementara yang tertuduhlah yang harus membuktikan posisinya bahwa ia tidak melakukan hal demikian.

  18. No True Scotsman Fallacy

    sesat pikir bukan scotsman sejati
    Sumber: quickmeme.com

    Menyatakan bahwa fakta yang muncul tidaklah bisa dipercaya bila tidak sesuai dengan fakta yang awal. Sebab fakta awal lah kebenaran sejati.

    Contoh kesalahan logika no true scotsman:

    • "Randy tidak suka berkelahi. Sejatinya, seorang lelaki itu tidak akan lari dari perkelahian. Oleh sebab itu, Randy bukanlah lelaki sejati."

    • "Semua orang Soppeng itu pandai bahasa bugis. Aco orang Soppeng tapi tidak bisa bahasa bugis. Aco bukan orang Soppeng!"

    • Kasus #:
       
      Aco: "Aku telah menemukan data kalau perempuan memang mencari pria mapan untuk dinikahi."

      Besse: "Aku tidak mencari pria mapan."

      Aco: "Pokoknya perempuan sejati hanya mencari pria mapan, Titik!"

     

  19. The Texas Sharpshooter Fallacy

    the texas sharpshoter
    Sumber: quizlet.com

    Memilih fakta yang mendukung asumsi, tapi mengabaikan fakta lain yang berpotensi melemahkan.

    Contoh kesalahan logika the texas sharpshooter:

    • Kasus #:
      Seorang tokoh agama mengklaim bahwa kitab sucinya memang benar karena suatu temuan penelitian A yang mendukung dalil kitab tersebut. Sementara menganggap bahwa temua penelitian B, C, D, dan E yang bersifat melemahkan dalil kitab suci disembunyikan, atau menganggap penelitiannya bermasalah.

    • Kasus #:
      Hitler Nazi mendengung-dengungkan sebuah penelitian A yang menyatakan bahwa bangsa Arya merupakan bangsa yang superior karena memiliki kecerdasan, kecantikan, dan kekuatan di atas rata-rata. Padahal ada banyak penelitian lain yang membantah hasil penelitian tersebut.

    • Kasus #:
      Dokter Terawan mengklaim bahwa terapi brain spa yang ia temukan memang terbukti bisa menyembuhkan stroke. Padahal, ada banyak penelitian yang menemukan bahwa terapi brain spanya itu gagal dan malah merusak otak pasien.

     

  20. The Fallacy Fallacy

    The Fallacy Fallacy
    Sumber: i.mgur.com

    Menyatakan suatu argument lawan itu dibangun dari fallacy dan oleh karenanya pasti salah. Sehingga tidak masalah mengabaikan isi dari argument lawan.

    Contoh kesalahan logika the fallacy fallacy:

    • Kasus #:
      Aco: "Argumen kamu tuh ad hominem banget! Menyesatkan banget loh!"
      Besse: "Lah, tapi aku benar kan? kalau kebijakan guru yang ngewajibin jilbab ke siswinya, bisa jadi dipengaruhin karena dia muslim?!"

    • Kasus #:
      Besse: "Virus X tuh emang beneran ada!! Pemerintah sendiri kan yang bilang?!"
      Aco: "Heleh! Logikamu tuh appeal to authority fallacy! Hanya karena pemerintah bilang virus X ada, bukan berarti beneran ada."

    • Kasus #:
      Besse: "Aku sendiri udah sering dapat pengalaman, kalau dosen kita tuh mendiskriminasi perempuan banget!"
      Aco: "Cuman pengalamanmu sendiri? Itu anecdotal fallacy namannya!" 

     

  21. Personal Incredulity Fallacy

    Personal Incredulity
    Sumber: flatearth.ws

    Menganggap sesuatu itu pasti tidak benar hanya karena tidak masuk di akal atau tidak mudah dimengerti. Padahal, di dunia ini memang ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sederhana, dan hanya bisa dijelaskan dengan alat bantu atau persamaan matematika.

    Contoh kesalahan logika personal incredulity: 

    • "Tidak mungkin kalau hukum evolusi itu memang benar ada. Logikanya, kalau semuanya bisa terjadi secara kebetulan tanpa ada yang menciptakan, kursi itu seharusnya bisa jadi sendiri tanpa ada yang buat. "

    • "Kalau vaksin itu sendiri terbuat dari virus yang berbahaya bagi saya, kenapa saya harus memasukkannya ke tubuh saya?"

    • "Logikanya, kalau virus X itu berbahaya & mematikan, seharusnya semua orang yang terinfeksi sudah mati sekarang." 

  22. Ambiguity Fallacy

    Ambiguity
    Sumber: examples.yourdictionary.com

    Menggunakan bahasa yang bersifat ambigu atau multitafsir dalam berargumen, dengan tujuan tuk mengaburkan kebenaran.

    Contoh kesalahan logika ambiguity:

    • Penyidik KPK Novel Baswedan itu Taliban. Oleh karenanya ia harus dikeluarkan dari Komisi Pemberantasan Korupsi."
      Koreksi: Kata "taliban" yang dimaksudkan sama sekali tidak diketahui maknanya apa oleh khalayak umum. Sehingga menimbulkan kerancuan dalam pernyataan.

    • "Suami Nisa yang kurus itu sepertinya akan datang menjenguk."
      Koreksi: Tidak jelas yang dimaksudkan apakah suami yang kurus, ataukah Nisa yang kurus.

    • "Hanya orang paling bertaqwalah yang bisa mengerti tafsir sejati ayat ini."
      Koreksi: Definisi frasa "orang paling bertaqwa" tidak dapat diukur, begitupun juga "tafsir sejati ayat" yang tidak dapat dipertanggung jawabkan maknanya.

  23. Middle Ground Fallacy

    Midle Ground Fallacy
    Sumber: dogoodbetter.help

    Mengklaim bahwa titik tengah di antara dua posisi ekstrem berlawanan adalah kebenaran yang paling sejati. Kalau bahasa gaulnya sih "mengambil jalan tengah yang keliru".

    Contoh kesalahan logika middle ground:

    • "Jerinx SID bilang virus X itu tidak ada, Dokter Tirta bilang virus X itu ada, keduanya pasti sama-sama benar."

    • "Ustad Fulan bilang semua orang kafir itu harus dibunuh apalagi yang jahat. Tapi Ustad Syafii bilang agama kita tidak membolehkan pembunuhan bahkan kepada orang jahat. Ambil jalan tengah sajalah, bunuh orang kafir yang melakukan kejahatan."

    • Kasus #:
      Para pejabat menginginkan agar setiap koruptor dikasihani dan dibebaskan saja. Tapi aktivis anti korupsi menginginkan agar para koruptor dihukum seberat-beratnya hingga sepuluh tahun lamanya. Jaksa akhirnya memutuskan untuk menghukum koruptor hanya beberapa bulan penjara saja.


Referensi Materi:
  • Copi, M, C., Cohen, C., McMahon, K. Introduction. (2014). Introduction To Logic 14th Edition. Essex: Pearson Education Limited.

  • https://yourlogicalfallacyis.com/



***

Demikian saja barangkali artikel mengenai kesalahan logika dalam berdebat ini. Semoga dengan mengetahui beragam jenis fallacy ini bisa membuatmu mengerti bagaimana cara berdebat yang benar.

Bila kamu ada yang kurang paham, ada yang ingin ditanyakan, atau mungkin menambahkan, silahkan di kolom komentar yah!

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Gaya Hidup,Logical Fallacy