Ad Hominem: Arti, Contoh, & Cara Mematahkannya

Artikel Ad Hominem: Arti, Contoh, & Cara Mematahkannya ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Kesalahan Logika Dalam Berdebat.


Argumentum Ad Hominem Fallacy
Sumber: memegenerator.net

Bayangkan, kamu sedang terlibat dalam suatu perdebatan tentang kebijakan penjualan rokok. Kamu merasa sudah benar mendukung penjualan rokok, sebab tentu saja karena kamu memiliki argumen dengan data yang lengkap serta diproses dengan logika yang sehat. Akan tetapi, tiba-tiba kamu merasa semuanya jadi hancur seketika, ketika argumentasi yang semula sudah kamu persiapkan dengan mantap, harus diabaikan sebab lawanmu malah berkata: 

"Ya'elah! Kamu bicara begitu karena kamu perokok kan?" 

Apa Itu Ad Hominem Fallacy?

Menurut Wikipedia, ad hominem artinya adalah upaya menyerang kebenaran suatu argumen dengan menunjukkan sifat negatif yang berhubungan dengan orang yang mendukung kebenaran tersebut. Secara harfiah, "ad hominem" berasal dari bahasa latin yang bermakna "kepada orang". 

Penggunaan argumen ad hominem biasanya sering terjadi pada saat seseorang sedang menggunakan taktik diskusi, atau mengalihkan pembicaraan agar dapat mengaburkan substansi topik yang dibicarakan.

Serangan ad hominem sebenarnya bisa saja bersifat benar pada suatu konteks, situasi dan kondisi tertentu. Seperti misalnya, saat kita ingin mendebat seorang penganut agama A yang ingin menjadikan hukum agamanya sebagai hukum negara yang notabenya terdiri dari berbagai macam agama dan budaya.

Meski serangan ad hominem dalam konteks tertentu dapat dibenarkan, jika bisa, sebaiknya haruslah dihindari. Akan lebih baik jika kamu hanya berfokus pada substansi argumen yang kuat dengan data, teori, dan penalaran logis yang benar, ketimbang bermain argumen yang hanya menyerang pribadi.

Ragam Bentuk & Contoh Argumentum Ad Hominem

  • Mengaitkan Ke Motif Lawan
    Kesalahan logika di mana mengalihkan substansi argumen, dengan cara mempertanyakan motif si pembuat argumen.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Mungkin, pemerintah perlu menurunkan pajak rokok demi kesejahteraan petani tembakau."
    B: "Heleh! Kamu bilang begitu karena pengen membela rokok kan?"

  • Argumentum Ergo Decado
    Sebuah kekeliruan berpikir, di mana seseorang menyuruh si pengkritik untuk pergi menjauh saja dari objek yang dikritik jika tidak suka.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Eksploitasi buruh lembur kerja dengan gaji sedikit tentu saja haruslah kita tolak!"
    B: "Loh! Kalau memang tidak suka dengan skema gaji perusahaan ini, yah silahkan keluar!"

  • Menuduh Balik / Mengekspos Kemunafikan (Tu Quoquo)
    Sebuah usaha mengerdilkan argumen lawan, dengan cara mengekspos inkonsistensi / kemunafikan antara argumen dengan sikap sebelumnya.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Kamu tidak boleh merokok! Sayangi tubuhmu! Rokok itu berbahaya bagi kesehatan, Nak!"
    B: "Tapi kan? Bapak juga merokok, Bu? Gak usah larang-larang saya lah!"

  • Hanya Menyerang Sudut Pandangan Lawan
    Lebih mengaitkan sudut pandangan lawan dengan argumen, ketimbang berfokus pada substansi argumennya.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Pendidikan seharusnya gratis sehingga dapat diakses oleh semua orang."
    B: "Yah, wajar sih kamu bilang kayak begitu. Kamu kan penganut paham komunis!?" 

  • Penghinaan Langsung (Abusive)
    Argumen yang hanya berisi dengan penghinaan, menjatuhkan, atau mengkonotasikan lawan secara buruk tanpa memperhatikan substansi dari pembicaraan.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Novel Baswedan tidak seharusnya dipecat dari KPK."
    B: "Halah, Bocah diam ajalah! Gak usah ikut-ikutan! Anak kecil tahu apa sih?!"

  • Mengungkit Sifat / Kepribadian Yang Tidak Relevan
    Sebuah teknik retorika licik di mana si pelaku menghadirkan informasi buruk tentang pribadi lawan yang tidak relevan dengan substansi argumen.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Kita harus mendukung pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sekarang juga!"
    B: "Fuck Boy mesum mau sok bicara RUU PKS? Halah!"

  • Mengaitkan Argumen Dengan Cara Lawan Menemukannya
    Hanya berfokus pada cara lawan mengasilkan argumen, tanpa perlu lagi memperhatikan substansi argumennya.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Menurut saya, RUU PKS haruslah segera disahkan! Saat ini sudah terdapat banyak kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang berakhir dengan hanya menguntungkan si pelaku. Bayangkan bagaimana perempuan menderita karenanya! Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimana jika anak atau saudara perempuan kita nanti menjadi korban juga?"

    B: "Sudah-sudah! Santai lah! Serius bener! Gak usah terlalu emosional lah!"

  • Kekeliruan Kredensial
    Merupakan kekeliruan logis di mana seseorang megabaikan sama sekali argumen seseorang tentang suatu topik, hanya karena orang tersebut bukanlah expert di bidangnya.

    Contoh Ad Hominem:
    A: "Menurut penelitian psikologi, stress bisa berdampak buruk pada kesehatan"
    B: "Halah! Tahu apa kamu? Memangnya kamu pernah kuliah jurusan psikologi?"

  • Ad Hominem Yang Lain
    Contoh-contoh di atas dapatlah dikatakan sebagai jenis Ad Hominem yang paling umum muncul. Sebenarnya, masih ada banyak lagi jenis-jenis Ad Hominem. Namun, ada satu hal fundamental yang menentukan apakah suatu argumen itu Ad Hominem atau tidak. Apa itu? Ia adalah argumen yang hanya berfokus pada sumber lawan, tanpa lagi berfokus pada substansi pembicaraan.


Cara Mematahkan Argumen Kesalahan Logika Ad Hominem

How to deal with Ad Hominem? Well, pada umumnya ada 3 cara untuk mematahkan argumen kesesatan logika ad hominem. Berikut tiga jenis caranya:

  • Perlihatkan Bahwa Argumen Yang Digunakan Memang Tidak Relevan
    Cobalah untuk menunjukkan kepada pelaku, bahwa argumennya yang bersifat menyerang pribadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan substansi pembicaraan. Jika kamu tidak ingin bersikap defensif dan ingin menyerang balik, jangan ikut-ikutan mengeluarkan argumen ad hominem, tapi mintalah kepada si pelaku untuk menjelaskan mengapa serangan ad hominemnya relevan dengan diskusi!

  • Abaikan Serangan
    Tak perlu gubris serangan pribadi yang dilayangkan oleh si pelaku. Segera giring kembali pembicaraan ke arah substansi / topik. Gunakan data, teori, atau penalaran logis yang benar untuk membalas argumen.

  • Akui Serangannya Dan Lanjutkan
    Terkadang, mengakui serangan ad hominem itu juga dapat berguna, terutama dalam menurunkan sikap defensif si pelaku. Cobalah untuk setuju dengan serangan pribadi yang dilayangkan si pelaku, tetapi langsung nyatakan bahwa serangannya tidak tidaklah relevan dengan substansi diskusi, kemudian langsung lanjutkan dengan memberi argumen kuat yang berlandaskan entah data, teori, ataupun penalaran logis yang benar.


Sumber:

https://effectiviology.com/ad-hominem-fallacy/
https://id.wikipedia.org/wiki/Ad_hominem
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Gaya Hidup,Logical Fallacy