Review Novel Oliver Twist ~ Charles Dickens




Review Novel Oliver Twist Karya Charles Dickens - Iseng-iseng minjem buku di Perpustakaan Kata Kerja Makassar, berjumpalah saya dengan karya klasik yang satu ini: Oliver Twist. 

Entah sebab apa saya memilih buku ini. Curiga saya, mungkin karena pengaruh artikel BBC yang berjudul "100 Buku Yang Membentuk Dunia Kita Sekarang", yang mana, dalam artikel tersebut nama penulis novel Oliver Twist, Charles Dickens masuk ke dalam daftar.

Yah, meski novel Dickens yang dimaksudkan dalam "100 buku" itu adalah Christmas Carol, bukannya Oliver Twist. But well, mari kita bedah sastra klasik yang satu ini.

Oh iya, biar review bukunya makin beda dari yang lain begitu, saya akan coba mengikuti format yang digunakan Bung Martin Suryajaya saat mereview kumpulan puisi "Kuil Nietzsche" 🤣. Yah, sapa tahu pikiran progresifnya bisa ketular ke saya juga kan ho-ho-ho 🤣

Ikhtisar Cerita

Terlahir dari rahim perempuan misterius yang meninggal usai melahirkan, Oliver Twist harus bertumbuh dalam lingkungan rumah sosial dengan birokrasi kejam & munafik. Tak tahan dengan berbagai penyiksaan, Oliver yang kala itu berusia 9 tahun memutuskan kabur dari tempatnya dibesarkan. Tertatih tatih berjalan kaki sendirian menuju kota London. Oliver bertemu sekawanan pencopet ramah yang justru menyeretnya menuju kemalangan baru: dunia gelap dari bagian kumuh kota London. 

Aspek Badani Buku - Oliver Twist

Jikalau kita menelusuri jejak kepenulisan Dickens, Oliver Twist merupakan karya pertama yang diterbitkan pada 1837, dengan konsep cerita berseri dalam majalah bulanan Bentley's Miscellany. 

Saya sebetulnya tidak tahu, sudah sejak kapan dan sudah berapa penerbit yang mencetak Oliver Twist ke dalam bahasa Indonesia. Tapi sekiranya cukuplah saya menjadikan buku yang saya pinjam ini sebagai patokan. Diterbitkan ulang ke bahasa Indonesia oleh penerbit Bentang Pustaka (2011), novel dengan 578 halaman ini beredar di Indonesia melalui jerih payah Reni Indardini selaku penerjemah; Nunung, Dyna, & Ika selaku penyunting; Tyo selaku desainer sampul; Neneng, & Dwi selaku pemeriksa aksara; serta Wahyu Wijayanto sebagai penata aksara.

Bernomor ISBN: 978-602-8811-15-6. Buku ini dicetak dengan sampul art paper yang menampilkan seorang anak terduduk menopang dagu di atas papan penanda jarak kota London. Bila diukur menggunakan penggaris, buku ini memiliki dimensi kertas 5 x 8 inchi dengan kertas bookpaper sebagai medium cetakannya. Yah, lumayan nyamanlah kalau digenggam tangan saya. Meski tak senyaman menggengam tangan mantan.

Aspek Rohani Buku - Oliver Twist

Charles Dickens adalah "The King of Satire". Sekiranya cocoklah saya sematkan julukan itu kepada penulis kebangsaan Inggris ini (yah, setidaknya versi saya ho-ho-ho). Dickens memang jago menggunakan diksi-diksi bernada satir menggelitik, terutama saat melukiskan degradasi moral tiap tokoh antagonisnya. Tengok saja, salah satu tokoh korup seperti Tuan Bumble yang dengan segala upayanya membuat diri jadi lebih terhormat, justru hanya membuatnya seperti birokrat konyol yang gila hormat. Atau, coba perhatikan bagaimana Dickens menggambarkan tokoh si ibu penjaga rumah sosial yang licik nan hipokrit, Nyonya Mann:

"Si wanita berumur adalah wanita yang bijak dan berpengalaman. Dia tahu apa yang baik untuk anak-anak dan dia punya pendapat yang sangat akurat mengenai apa yang baik bagi dirinya sendiri. Jadi, dia mengalokasikan sebagian besar jatah mingguan (anak rumah sosial) untuk keperluannya sendiri. Dan, bagi anak-anak tanggungan desa yang jumlahnya kian banyak, disisakan tunjangan bernilai jauh di bawah besaran asli yang disediakan untuk mereka. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Wanita itu membuktikan diri sebagai seorang filsuf eksperimental yang luar biasa" (Hal. 6)

Dickens sangat hebat dalam mempertunjukkan kebobrokan budi pekerti masyarakat, yang, perlu digaris bawahi sebagian besar berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Ya, tentu saja! Ia hampir sepenuhnya menempatkan kaum papa di sisi antagonis, sementara kaum kaya filantropis sebagai protagonis. Jiwa miskin saya terluka 🤣. Kurang adil betul! Tapi tarulah pendapat saya ini hanya sebagai insight dangkal dari pembaca yang baru mengenal Dickens kemarin sore. Saya benar-benar, masih belum terima, dengan apa yang sebenarnya Dickens berusaha sampaikan di sini. Tapi saya akan mencoba berbaik sangka: bahwa mungkin, Dickens sedang berupaya membujuk kaum kaya di zamannya agar bisa lebih peduli lagi dengan anak-anak yang hidup di lingkungan kumuh kota London. Bahwa anak-anak terlantar yang jika tidak dipedulikan kehidupannya, bisa bertumbuh menjadi penjahat atau sejenis sampah masyarakat yang kedepannya hanya merugikan kaum kaya itu sendiri.

Kalaulah saya membandingkan insight saya dari Oliver Twist, dengan insight dari cerita lain yang menggoreng konsep "ketimpangan sosial" seperti film Parasite karya Bong Joon-Ho misalnya (lah, kok bahas film? 😂), pastilah saya akan dituduh tidak adil. Tapi izinkan saya untuk menggunakan insight dari Parasite sebagai penambal Oliver Twist yang menurut saya masihlah bolong. Saya jadi teringat dengan percakapan ayah & ibu Kim yang menjadi tokoh sentral dalam film Parasite. "Mereka baik hati walau mereka kaya" ujar Ayah Kim. Yang kemudian dibalas "mudah berbaik hati kalau kau kaya" oleh Ibu Kim.

Lah, kok rada offside yak?😂

Perihal keseruan alur cerita, menurut saya tidak bisa berharap banyak. Oliver Twist dapatlah dikatakan memiliki plot yang terlalu panjang dan berbelit. Sehingga, pembaca bisa jadi bosan dibuatnya. Namun, berkat alur cerita yang panjang ini juga, Dickens berhasil menciptakan detail-detail yang menjadikan tokoh utama bisa menarik empati pembaca (yah, setidaknya hati pembaca dari blog review sebelah ✌). 

Meski demikian, Oliver sebagai tokoh utama, nampaknya terkesan pasif di sini. Selain itu, unsur kebetulan juga lumayan banyak. Sehingga, ketimbang memberikan plot twist yang bisa menyegarkan hati pembaca, unsur tersebut hanya memberi "kesan terpaksa" bak cerita-cerita klise yang dihadirkan dalam sinetron di televisi. 

Kembali berpikir positif. Oliver Twist kalau dipikir-pikir juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Mungkin, itulah kutukan pembaca novel klasik yang hidup di era sekarang. Era di mana narasi cerita berkembang begitu pesat & beragam, dengan plot twist yang canggih begitu rupa, dan dapat ditemukan di mana-mana (novel, film, anime, kdrama, dll). Membandingkan plot cerita Oliver Twist dengan cerita-cerita yang hadir di masa sekarang tentulah seperti membandingkan televisi hitam putih dengan LED TV. (Ca'elah, sok kayak udah baca banyak buku aja😂)

Terakhir, Oliver Twist mungkin kurang memuaskan bagi pembaca dengan latar belakang kiri. Setidaknya untuk Oliver Twist itu sendiri. Sebab, Dickens masihlah belum sempurna dalam mengekspos masalah terbesar dari ketimpangan sosial (sistem). Ketimbang mengajurkan suatu gagasan revolusioner seperti mengambil alih seluruh aset para tokoh kaya agar bisa dibagikan kepada kaum papa, Dickens malah hanya menempatkan sisi filantropi kaum kaya sebagai solusi (hiyaa, dah kelihatan progresif belom? 🤣). Tapi tentu itu masihlah insight terbatas. Bahwa betapa ketidaktahuan saya akan buku-buku Dickens itu jugalah yang menjadi penyebab kesimpulan saya jadi seperti ini.

Walau bagaimanapun, tiada salahnya jika buku ini dimasukkan ke daftar list yang bisa dibaca. Oliver Twist masihlah relevan dalam menggambarkan kondisi ketimpangan sosial; sisi munafik birokrasi; serta kekerasan x eksploitasi anak yang terjadi di Indonesia. Selain itu, dari sisi terjemahan, Reni Indardini selaku penerjamah melakukan pekerjaannya dengan cukup baik. Membuat Oliver Twist lumayan nyaman tuk dibaca.

Begini saja barangkali ulasan saya mengenai novel Oliver Twist ini. Kalau kamu setuju, bolehlah barangkali dishare. Tapi klau tidak, bisalah mungkin dikemukakan di kolom komentar.

Sampai jumpa lagi, Kamerad!
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Buku,Review